Senin, 26 Januari 2009

Ushul al-‘Isyrin -Manhaj Ishlah Kontemporer-

Setelah kakhalifahan Turki Ustmani runtuh pada tahun 1924 M muncullah banyak gerakan penyadaran untuk kembali memperbaiki keadaan umat yang kian terpuruk. Namun sayang gencarnya semangat penyadaran ini dibarengi juga oleh berbagai konflik dan kekisruhan pemikiran.....
Kondisi umum berbagai jama’ah Islam di Mesir (dan dunia Islam pada umumnya) menampakkan gejala ”parsialisasi Islam” dalam gerakan dakwah mereka. Masing-masing hanya memperhatikan satu aspek tertentu saja dari risalah Islam yang syumul ini, menitikberatkan kepada yang satu dengan meninggalkan aspek-aspek lainnya.
Ada yang hanya memperhatikan aspek aqidah saja, atau aspek ibadah saja, atau aspek kultural saja, dalam ajaran Islam. Ada pula tarekat-tarekat sufi yang hidup di sudut-sudut sempit dari lingkup Islam yang besar, yang hanya mementingkan aspek rohani yang bersifat ritual dan menyendiri atau aspek sosial yang sempit dalam batas-batas tarekat. Dan adapula jama’ah-jama’ah politik atau partai politik yang umumnya berorientasi ”Nasionalisme-Sekulerisme” yang para pemimpinnya terdiri atas orang-orang berlatarbelakang pendidikan barat yang sekuler. Diantara jama’ah-jama’ah itu ada yang menganggap jelek orang-orang yang sibuk memperhatikan dan menekankan aspek-aspek lainnya.
Dilatarbelakangi oleh berbagai kondisi yang melanda gerakan-gerakan Ishlah (reformasi) inilah Hasan Al Banna berhasil mengidentifikasi persoalan yang dihadapi umat ini dengan sangat jelas. Didasari oleh relitas inilah maka Imam Syahid Hasan Al Banna memformulasikan kerangka berfikir untuk meyatukan semua gerakan penyadaran umat untuk kerja bahu-membahu.
Diantara berbagai kekeliruan dan penyimpangan baik dalam pemikiran maupun dalam tindakan umat Islam ditangkap dan dipetakan dalam amat cerdas oleh beliau, khususnya di Mesir ketika itu adalah sebagai berikut :
1. Pemisahan urusan politik, kekuasaan, agama, dan negara.
2. Pengertian akhlak yang sesungguhnya dipisahkan dengan keperluan menggunakan kekuatan dalam mengukuhkan kedudukan Islam di muka bumi. Pemahaman ini menekankan seolah-olah kekuatan dalam pengertiannya yang luas bertentangan dengan nilai akhlak yang mulia.
3. Kegagalan dalam mengkorelasikan keunggulan ilmu-ilmu Islam dan peranannya sebagai dasar hukum dan perundang-undangan begi penegakkan hukum dan penyelesaian perselisihan antara manusia.
4. kekeliruan antara memuliakan nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah sebagai simbol-simbol yang bersifat bathiniyyah dan tidak dapat dipahami dengan menjadikannnya sebagai sumber pegangan hidup dan asas atas segala ’ilmu dan ’amal.
5. Pengamalan perkara-perkara yang dapat mengandung unsur syirik seperti tangkal, jampi dan sebagainya dengan mengatasnamakan agama.
6. Tidak dapat membedakan antara bolehnya berpegang kepada pendapat imam-imam madzhab dengan tuntutan berpegang kepada hujjah-hujjah yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah.
7. Tidak dapat melakukan pemisahan antara perkara-perkarata’abbud dengan perkara-perkara yang bersifat ’adat.
8. Tidak dapat membedakan mana perkara ushul dan mana perkara yang cabang dalam Islam, sehingga persoalan furu’ dalam masalah fiqh menjadi sebab perselisihan dan perpecahan.
9. Gagal dalam mengidentifikasi masalah umat Islam sehingga terjebak menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam perdebatan hukum-hukum yang tidak berlaku.
10. Gagal dalam membedakan antara mentauhidkan Allah dengan terbawa-bawa dalam peraselisihan ’ulama’ terkait penafsiran dan penta’wilan ayat-ayat Al Qur’an dan hadist-hadist yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah.
11. Gagal dalam membedakan antara amalan-amalan biasa yang telah meluas dalam masyarakat dengan pengertian bid’ah dalam Islam.
12. Tidak adapat membedakan antara bolehnya mengasihi dan mencintai salihin dengan mengkultuskan mereka dan tidak dapat membedakan antara asas-asas iman dengan natijah-natijah iman yang sahih.
13. Mencampuradukkan amalan-amalan sunat dengan amalan-amalan yang dapat membawa kepada syirik seperti meminta-minta kepada orang mati, menyeru orang mati dan lain-lain ketika menziarahi kubur, sedangkan menziarahi kubur adalah sunat.
14. Tidak dapa membedakan antara bertawasul sebagai kaifiat do’a dengan bertawasul sebagai unsur utama dalam do’a.
15. Tidak dapat membedakan ’uruf-’uruf yang diterima syara’ dengan ’uruf-’uruf yang bertentangan dengan syara’.
16. Tidak dapat meletakkan keseimbangan antara amal-amal lahir dengan amal-amal batin.
17. Gagal dalam mendudukkan akal sehingga terdapat satu pihak yang enggan menggunkan akal karena takut menyalahi nash, sedangkan terdapat pula satu pihak yang menggunakan akal secara bebas hingga meminggirkan nash.
18. Terbawa-bawa dalam mengkafirkan kaum muslimin karena kesalahan dan dosa-dosanya.
Hasan Al Banna berhasil mendamaikan konflik diantara aliran pemikirang yang ada saat itu. Dalam persimpangan inilah Hasan Al Banna menggariskan jalan pertengahan yang sahih dan tepat bagi mengembalikan umat Islam untuk memahami risalah Islam yang asli. Hasan Al Banna menggariskan dua puluh prinsip berkaitan dengan permasalahn ini yang dinamakan sebagai ”Ushul ’Isyrin” . Secara ringkas, ushul ’isyrin menggariskan perkara-perkara berikut :
1. Islam adalah al-Din yang syamil.
2. Al Qur’an dan As Sunnah adalah sumber utama kehidupan.
3. Iman adal;ah asas utama sedangkan najitah-natijah iman seperti kasyaf, mimpi, ilham, dan sebagainya tidak menjadi matlamat ibadah dan tidak boleh menjadi hujjah.
4. Jampi-jampi yang berdasarkan nash saja yang diterima sedangkan selainnya batal dan ditolak.
5. Pendapat imam dapat diterima seandainya tidak berlawanan dengan kaidah-kaidah syari’at Islam.
6. Perkataan siapa saja boleh ditolak atau diterima kecuali perkataan Rasulullah SAW.
7. Muslim yang belummencapai peringkat ilmu yang tinggi dapat mengikuti pendapat salah satu imam mazhab, tetapi harus berusaha untuk terus meningkatkan ilmunya.
8. Perselisihan dalam perkara-perkara furu’ tidak boleh menjadi sebab terjadinya perpecahan.
9. Membicarakan perkara-perkara yang tidak waqi’i adalah memberta-beratkan dan mesti ditinggalkan.
10. Sifat-sifat Allah bersih dari ta’wil-ta’wil yang salah.
11. Bid’ah yang jelas bertentangan dengan nash adalah dholalah.
12. Baid’ah dalam ibadah mutlak adalah masalah khilafiyyah.
13. Mengasihi para salihin adalah untuk tujuan taqarrub kepada Allah.
14. Amalan ziarah kubur hendaknya dilakukan berpedoman kepada sunnah.
15. Tawassul adalah masalah khilafiyyah dalam kaifiat do’a
16. ’Uruf yang salah tidak mengubah hakikat lafazh syari’at.
17. Aqidah adalah asa kepada amal. Amal hati lebih penting daripada amal zahir, tetapi mencapai kesempurnaan dalam kedua-duanya adalah tuntunan syara’.
18. Islam menempatkan akal di stu tempat yang mulia.
19. Dalam perkara yang qat’i, syari’at dan akal tidak bertentangan.
20. Tidak boleh mengkafirkan orang yang mengucapkan syahadatain karena maksiat yang dilakukannya.
Pemikir Islam dari Syiria, Sayyid Hawwa mengatakan : ”Kedua puluh dasar yang disebutkan oleh Hasan Al Banna ini mertupakan hasil dari pandangan yang tafshili (teliti) terhadap kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Ia juga sebagai hasil penelitian yang luas terhadap kitab-kitab ushul fiqh dan aqidah. Ia juga sebagai hasil dari pemahaman yang mendalam terhadap realitas umat Islam dan juga pengetahuan yang tinggi dalam membedakan mana yang baik dan yang buruk diantara perkara-perkara yang telah diwariskan oleh umat Islam.”
Namun cara penyajian ushul tersebut dan kedudukan utama ke-20 prinsip tersebut sebagai asas pemikiran tajdid Al Banna adalah sesuatu yang penting. Ini karen Ushul ’Isyrin bukan hanya sebagai panduan-panduan yang bersifat ilmu, tetapi Ushul ’Isyrin adalah satu ijtihad dalam menentukan suatu pendekatan untuk mengemukakan Islam sebagai satu dasar hidup yang syumul. Manhaj seperti ini sangat penting bagi masyarakat Islam yang berhadapan dengan serangan pembaratan. Manhaj yang mendamaikan banyak kekeliruan ini sedemikian penting dalam membersihkan keserabutan pemikiran di kalangan masyarakat Islam di masa itu.
Apa yang terdapat dalam Ushul ’Isyrin mungkin merupakan persoalan badihiyyat (aksiomatik) pada hari ini. Tetapi pada saat pertama kali hal ini dikemukakan keadaannya tidak seperti itu. Perkara-perkara yang terkandung dalam Ushul ’Isyrin menjadi badihiyyat pada saat ini setelah Asy Syahid Hasan Al Banna menegaskan dan menekankannya kepada anggota ikhwan di dalam jama’ahnya. Kemudian mereka inilah, melalui amal, ceramah-ceramah, kuliah-kuliah dan khususnya penulisan-penulisan, telah mempopulerkan manhaj tersebut kepada umat Islam ke seluruh dunia pada abad kedua puluh ini.
Dengan demikian nyatalah bahwa Ushul ’Isyrin sebagai ’Manhaj Ishlah’ juga dapat dianggap sebagai satu ijtihad karena kedudukannya yang istimewa sebagai asas pertama dalam pembinaan para tentara dakwah yang multazim. Melalui asas Al Fahmu sebagai arkanul ’asyarah yang pertama maka gerakan tajdid dalam memahami Islam dilakukan dalam abad ini melaui Ushul ’Isyrin.
Hasan Al Banna memperbaharui pendekatan terhadap metode bagaimana umat Islam memahami Islam yang asli.hal ini membuat ’melek’ umat Islam yang berpuluh-puluh tahun berada dibawah dominasi penjajahan barat.
Risalah ini termasuk risalah terpenting yang ditulis oleh Hasan Al Banna.Bahkan Utadz Abdul Halim Muhammad mengganggapnya sebagai puncak dan intisari dari semua risalah yang beliau tulis.
Rislah ini berisi strategi jama’ah ikhwan dalam tarbiyah dan pembentukan kader. Juga berisi tentang tujuan-tujuan dakwah dan perangkat untuk mencapai tujuan tersabut. Asy Syahid menulis risalah ini untuk para anggota ikhwan yang tulus, para mujahid atau yang disebut dengan kader inti Ikhwan. Dimana gaya bahasa yang dipakai adalah gaya bahasa instruktif untuk beramal, bukan sekedar pembicaraan.
Teori reformasi yang diusulkan oleh Hasan Al Banna adalah sebuah sintesa atas berbagai visi dan orientasi sebagai ”modus bersama” yang menghimpun berbagai kecenderungannya, menyatukan persepsi fundamental mereka mengenai persoalan-peroalan global dan masalah-masalah besar, meski dalam masalah-masalah furu’ yang kecil mereka tetap memiliki perbedaan, dan agar Ushul ’Isyrin dapat menjadi poros bertemunya berbagai gerakan Ishlah.
”Sesungguhnya terapi bagi keterpurukan, perpecahan kata, kehancuran dan kemunduran peradaban umat Islam tidak bisa dilakukan dengan terapi tunggal, ia harus dengan terapi komprehensif. Begitu juga manhaj reformasi untuk membebaskan umat Islam dari keterpurukannya haruslah komprehensif tanpa memprioritaskan manhaj sqalah satu reformis., tetapi harus mencakup seluruh unsur reformasi. Dengan itulah semua kondisi umat Islam akan membaik.” begirulah yang ditulis Asy Syahid Hasan Al Banna menjelaskan gagasan reformasinya.....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar